Menjauhi ucapan sia-sia dan menyakitkan adalah penggunaan lisan yang paling berharga.
Nabi (SAW) mengajarkan agar seseorang berkata baik atau diam. Memilih diam daripada kata-kata yang tidak perlu, hampa, dan menyakitkan adalah kematangan lisan. Setiap kata memikul tanggung jawab, dan tanggung jawab itu membuat kita lebih selektif serta lebih penuh pertimbangan.
Apa sumber hadis sunnah ini?
Sunnah ini didasarkan pada hadis berikut. Rujukan menunjukkan kitab, bab, dan nomor tempat hadis tersebut tercantum.
- B6475 Buhârî, Rikâk, 23
- M173 Müslim, Îmân, 74
Sunnah lain dalam kategori Adab Bicara
Dalam bentuk tabel beserta rujukannya: Sunnah Adab Bicara.
- Tidak Berdusta: Menjauhi dusta meski bercanda membangun kepercayaan.
- Menjauhi Gibah: Membicarakan seseorang di belakangnya adalah menyakitinya. Nabi sangat melarang gibah.
- Tidak Memotong Pembicaraan: Mendengarkan seseorang tanpa memotong pembicaraannya adalah bentuk nyata dari rasa hormat.
- Menegur dengan Lembut: Kelembutan membuat pekerjaan menjadi indah; Nabi menganjurkan hal ini.
- Menguasai Diri saat Marah: Menguasai diri saat marah adalah jalan terpendek terhindar dari kata-kata yang disesali.
- Mengawali Ucapan dengan Nama Allah: Mengawali perkataan penting dengan mengingat Allah memberkahi kata-kata itu.
Aplikasi Sunnah & Hadis mengingatkan sunnah ini dan lainnya lewat pengingat singkat yang tersebar sepanjang hari. Gratis untuk iPhone, tanpa iklan: unduh di App Store.